![]() |
| Sumber: google.com |
Dari keempat Tetralogi Pulau Buru, memang buku Bumi Manusia yang cukup ringan dibanding ketiganya. Mengambil cerita pra-kematian Annelies yang bisa dikatakan masih banyak hal menyenangkan. Meski tidak dapat dipungkiri, beragam masalah yang cukup kompleks dialami oleh Minke, Nyai, dan Annelies yang berposisi sebagai pribumi.
Sebenarnya, saya merasa takut dan cemas kalau-kalau interpretasi saya terhadap pak Pram ternyata salah. Tapi saya akan berusaha untuk tetap objektif dalam melihat bagaimana buku pak Pram; Bumi Manusia dialih-wahanakan kedalam media yang berbeda: buku dan teater.
![]() |
| Sumber: goodreads |
Beberapa bulan setelah mendengar kabar Bumi Manusia akan difilmkan, saya justru baru membaca bukunya. Karena jarak antar produksi dan penayangan yang cukup lama, saya jadi punya cukup banyak waktu untuk membaca buku kedua dan ketiga. Sebelum akhirnya menonton dan melihat Iqbaal Ramadhan berperan sebagai Minke, Mawar Eva sebagai Annelies, dan Ine Febriyanti sebagai Sanikem alias Nyai Ontosoroh.
Ini mungkin ulasan awam saya melihat Bumi Manusia diadaptasi menjadi film. Bagi saya, dengan durasi yang cukup panjang (tiga jam lebih), Salman Aristo selaku penulis skenario memang sangat jelas patuh pada bukunya. Seingat saya membaca, adegan demi adegan cukup persis untuk sebuah adaptasi. Saya tidak melihat sesuatu yang benar-benar istimewa sebagai sebuah film.

Saya sebenarnya berekspektasi bahwa Hanung Bramantyo akan punya keleluasaan lebih untuk mengarahkan Bumi Manusia seperti bagaimana Rako Prijanto pada Teman Tapi Menikah. Saya ingin melihat magic itu, yang sayangnya tidak saya temukan. Sepanjang film, saya hanya seperti membaca ulang bukunya. Salman Aristo juga sepertinya cukup mendapat tekanan sehingga memaksanya untuk memasukkan semua elemen dari 530-an halaman buku.
Dari segi performa pemain, saya kagum dengan Ine Febriyanti, Giorgino Abraham, dan Mawar Eva. Dalam film Dilan, Iqbaal yang cukup underrated waktu itu mampu membuktikan bahwa memang ia benar-benar pantas sebagai pemeran Dilan. Beda dengan kasus Bumi Manusia ini, meski wajahnya dihitamkan dan suaranya dimedog-medogkan, sangat terasa beda sekali. Apalagi saat dialog "tanpa tanding" itu, masih terbayang Dilan dalam frame itu.
Ada banyak peran kecil yang cukup menyita perhatian macam Darsam dan Babah Ah Tjong. Saya masih ingat adegan penggerebekan di rumah bordil milik Babah Ah Tjong yang sangat memacu emosi penonton. Dialek madura yang cukup kental dibawakan baik oleh Whani Darmawan.
Untuk sebuah film, ini tidak istimewa. Tapi sebagai bentuk penghormatan, ini benar-benar patuh dengan bukunya. Sama seperti buku Dilan pertama difilmkan. Bedanya, Iqbaal berhasil difilm itu. Selain itu, desain penggambaran abad 18 juga dinilai tak sesuai. Ada beberapa kesalahan seperti model rambut, busana, dan lain-lain yang sebenarnya tidak begitu saya mengerti. Saya cukup menikmati tanpa benar-benar terganggu dengan itu, tapi hal kecil lainnya macam desain yang artifisial cukup menganggu disetiap adegan.
Sekarang kita beralih ke adaptasi teater yang bertajuk Bunga Penutup Abad. Saya menonton teater ini saat Indonesia Kaya melakukan pemutaran dalam rangka mengajak masyarakat tetap di rumah dengan menyajikan hiburan. Saya agak kaget saat melihat adegan pembuka Reza Rahadian sebagai Minke membacakan sebuah surat disamping Nyai Ontosoroh yang diperankan oleh Happy Salma.
Rupanya adegan tersebut adalah pembuka untuk mengantar ke awal mula. Sebagai orang yang jarang nonton teater, saya cukup kagum dengan transisi perpindahan adegan. Saya kagum dengan ketiga pemeran utama yang membawakan dialog panjang tanpa jeda bernama cut itu. Saya bisa merasakan betul bagaimana getirnya saat Nyai Ontosoroh harus berpisah dengan Annelies.

Happy Salma yang jarang saya notice selain difilm Dilan, cukup membuat saya kaget. Ia berperan sangat total dan membawa semua emosi Sanikem tersebut kedalam panggung. Bagaimana saya melihat ia marah menggelegar saat akan melawan orang kulit putih adalah hal yang cukup langka saya liat dari Happy Salma.
Bagaimana dengan Ine Febriyanti dengan latar belakang teater. Saya tidak begitu tau, yang jelas persamaan antara kedua medium itu adalah kekuatan dari Nyai Ontosoroh yang diperankan dengan baik oleh Ine Febriyanti dan Happy Salma.
Jika ada hal mengganggu, mungkin adalah kejanggalan saya melihat rentang umur Reza Rahadian sebagai Minke. Tapi, dengan kemampuan aktingnya ia berhasil membuat saya abai sejenak dengan hal itu. Dialek yang dibawakan cukup meyakinkan. Dan untuk Chelsea Islan, dibeberapa adegan yang mengambarkan Annelies sebagai orang yang pemalu kadang terlihat lebay dan berisik. Tapi dibeberapa adegan juga tak kalah bagusnya ketika bersanding dengan Happy Salma dan Reza Rahadian. Untuk Lukman Sardi sendiri, berperan sebagai Jean Marais adalah hal yang cukup berani diambil. Dari perawakan sudah kurang meyakinkan, ditambah dialek Prancis dalam bahasa melayu yang terdengar sangat tidak natural.
Saya tentu saja bisa salah dalam melihat kedua adaptas tersebut. Tapi itulah yang saya rasakan. Dari kedua media itu, semuanya punya kekurangan dan kelebihan. Jika disuruh memilih, saya jelas akan memilih bukunya saja. Biar aman dan adil. Hehehe. Keduanya punya andil besar memperkenalkan pak Pram dan Bumi Manusia kepada Indonesia. Dan untuk itu, saya tentu akan mendukung itu dengan senang dan gembira. Tanpa merasa harus membandingkan dengan materi bukunya dan merusak ekspektasi dan pengalaman membaca.








