zsnr95ICNj2jnPcreqY9KBInEVewSAnK0XjnluSi

Kata Ganti Orang dalam Tulisan dan Kehidupan Sehari-hari

Pernahkah kita berpikir kenapa tulisan kerap kali berbeda dengan pelafalan sehari-hari. Contoh kecilnya adalah blog ini. Tidak ada yang benar-benar merepresentasikan cara berbicara saya sehari-hari. Suatu waktu, ketika menulis sebuah manuskrip saya terdiam sebentar ketika ingin memasukkan percakapan sehari-hari yang digunakan orang Kendari dalam suatu dialog.

Saya mengakalinya dengan membuat keterangan dialog baku dalam satu tutup kurung. Kurang lebih contohnya seperti ini:

"Korang darimana?" tanya Ina. (Kalian darimana?)

Terlihat agak ribet memang. Tapi saya rasa itulah salah satu cara untuk tetap memasukkan percakapan sehari-hari tanpa mengubah makna, tapi tidak menganggu. Ada cara yang lain, misalnya jika itu adalah sebuah buku, maka keterangan dialog macam itu akan dimasukkan di footer halaman. Tapi, bagaimana jika dalam satu halaman itu berisi percakapaan?

Sebenarnya, masalah penggunaan kata ganti orang ini sudah pernah saya bahas dalam tulisan berjudul Terima Kasih, Gue. Singkatnya, dalam tulisan itu saya memberitahukan kepada pembaca blog ini untuk postingan mendatang kata ganti "gue" akan diubah menjadi saya. Alasannya juga sudah cukup jelas di sana.

Nah, ketika sudah berhasil mengubah dari "gue" ke "saya", seharusnya tidak lagi ada masalah. Seharusnya. Tapi kenyataan berkata lain, dan saya menganggap itu sebagai suatu persoalan. Di blog ini, tulisan saya memang bisa dibilang sembarangan. Disini, saya tidak begitu mempedulikan penggunaan tanda baca dan diksi. Yang penting, saya paham dan nyaman saat membaca ulang.

Poin antar paragraf juga biasanya terkesan lompat-lompat. Hahaha. Saya kadang-kadang saat menulis dan sadar akan kesalahan, tapi tetap melanjutkan karena saya tahu menulis diblog ini dengan bersikap bodo amat. Kemudian, persoalannya apa?

Yah begini deh simpelnya. Saya menulis diblog ini kemudian teman-teman saya membaca. Dalam daerah, tulisan saya mungkin terlihat sangat kaku seperti contoh dialog diatas. Jadi, saya merasa bahwa tujuan saya mengubah dari "gue" ke "saya" itu kurang efektif. Saya tidak berpikir juga untuk mengganti dari "saya" menjadi bahasa sehari-hari. Meski akan dimengerti oleh yang mengerti, tapi akan terasa kaku juga jadinya. Contohnya:

Tadi siang sa bangun jam 12. Habis itu makan dan pergi di terasnya temanku. Disana sudah ada beberapa orang termasuk Riki dan Ali.

"Eh, ko darimana?" da tanya Ali.
"Dari tadi," sa menjawab.
"Lucunya," Ali da jawab.
"Dari rumah. Korang nda puasa kah?"
"Nda, sa haus sekali bela."
"Iyo, samaji. Sini pale airmu," kataku.

Untuk yang berdomisili Sulawesi, khususnya Kendari. Percakapan diatas mungkin akan sangat familiar. Dan jika diterapkan dalam kehidupan sehari-hari tidak akan menjadi masalah. Tapi saya melihat lagi, jika sebuah percakapan yang saya katakan baku saat diterjemahkan kedalam percakapan sehari-hari, ternyata akan terlihat baku ketika menjadi tulisan.

Beberapa makna dari kata diatas memang tidak bisa saya jelaskan secara benar dan tepat. Dalam suatu video yang membahas logat orang Kendari menjelaskan bahwa kata pale merujuk pada makna baiklah. Seperti contohnya, ketika seorang teman akan lebih dulu pergi dan kita bisa menjawab "Okemi pale" yang berarti "Oke, baiklah". Tapi, bagaimana dalam dialog diatas "sini pale airmu", yang hanya bisa dipahami oleh orang-orang yang mengerti.

Tidak bisa dijelaskan, tapi bisa dipahami. Itu seperti penegasan kalimat. Bukan cuma kata pale. Masih banyak kata lainnya. Dan saya menulis ini bukan untuk menjelaskan juga. Tapi sebagai catatan saya sendiri. Jika ingin mendapat penjelasan, mungkin bukan disini.

Related Posts

Post a Comment