Tapi betul, kekhawatiran itu semakin menjadi-jadi. Sejujur-jujurnya, selama pandemik ini radius saya dari rumah hanya sekitar 50 meter dari teras untuk duduk di sore hari. Minggu pertama, kedua, dan ketiga masih terlihat normal ketika tetap berada di rumah. Minggu keempat mulai merasa aneh dan bingung. Tidak ada lagi keseruan dari kata liburan. Tidak ada.
Padahal, liburan yang dulunya paling saya harapkan adalah mendekam di kamar untuk banyak nonton dan baca buku. Tapi, saya jadi ingat bahwa setiap Sabtu malam ada waktu dimana saya keluar bersama kawan-kawan untuk bermain. Mungkin, variasi yang berkurang itulah yang membuat harapan itu jadi mulai membosankan.
Kami sampai di pondok jam 5 lewat karena beberapa hal. Yang pertama adalah kaminya yang tak tepat waktu. Jadi dari rencana, kami akan meninggalkan rumah setelah Ashar untuk membeli ikan dan langsung ke pondok. Paling sampai jam 4 lewat sedikit. Yang terjadi adalah, setelah Ashar kami saling mencari. Sampai pada satu titik dimana saya mulai merasa rencana ini akan batal sebab sudah kurang dua jam akan buka puasa. Tapi pada akhirnya itulah yang juga terjadi, kami tetap jalan.
Problem kedua, diperempatan Pasar Baru dan Lippo Plaza motor Ari mogok. Jadi, sebelum lampu hijau kami menepi. Beberapa kali mencoba untuk men-starter ulang, tapi motor tak kunjung menyala. Jalan satu-satunya ditonda. Ali dengan motor persenelan mencoba untuk mentonda. Beberapa kali kami berhenti sebelum akhirnya saya memacu motor lebih dulu.

Saat sampai kami langsung menyalakan tempurung dipembakaran. Itu adalah tempurung yang sudah saya siapkan dari rumah. Jadi, kami hanya tinggal membakar ikan yang sudah kami beli karena beberapa lauk macam sayur dan tempe sudah siap. Untuk mengubah tempurung menjadi bara memakan waktu cukup lama.

Ikan belum selesai dibakar tapi kami harus membatalkan puasa dengan jalangkote yang juga saya bawa dari rumah. Itu dibelikan oleh Mama saya ketika meminta ijin. Setelah ikan matang, kami menyusun di antara beberapa lauk yang untuk melaksanakan Maghrib dahulu. Kemudian, kami benar-benar siap untuk makan.
Setelah makan, kami ke kamar sebelah tempat dimana kami akan tidur. Mungkin lebih tepatnya rebahan. Ohya, jadi di pondok ini adalah semacam kos-kosan milik keluarga Riki. Kak Rijal adalah orang yang menjaga kosan ini karena mempunyai hubungan keluarga dengan Riki. Karena ada kamar yang kosong, kami jadi punya tempat untuk makan dan tidur secara gratis.
![]() |
| Dari kiri ke kanan: Brad Pitt, Kak Rijal, Ali, Ari, Rendy, Riki |
Mempertegas poin diatas, oleh sebab anjuran pemerintah dan MUI, kami akhirnya tarawih berjamaah di kamar. Tapi karena satu hal lain, saya dan Ali tidak ikut berjamaah. Sungguh mempertegas hal macam ini sungguh aneh dan melelahkan. Tapi begitulah upaya yang masih sanggup saya lakukan.
Setelahnya, kami menyeting untuk main PES dari laptop ke TV. Kami bermain cup-cup dengan masing-masing satu klub. Saya memilih Liverpool. Yang lain ada memilih Juventus, Inter Milan, sampai Barcelona. Intinya tipikal pilihan pemain rental biasa lah. Aturan yang kami buat adalah pemain yang kalah akan mem-posting IG Story foto score akhir dengan caption semacam "saya kalah dari @rahulsyarif". Dan yang menang, sunnah untuk merepost.
Leg cup pertama, saya dua kali menang dan kalah di final melawan Ari. Tapi, karena bertekad menjadi juara, saya akhirnya bermain baik di leg cup kedua dengan memakai Barcelona. Jadi, klub yang sudah dipilih di leg cup pertama tidak boleh lagi digunakan. Akhirnya, saya berhasil sampai ke final untuk kedua kalinya melawan Riki. Sempat seri dan mendapat extra time hingga akhirnya kami harus ke drama adu penalty. Beberapa kali saya berhasil membaca arah bola, dan dengan pemain yang cukup memiliki power untuk menendang, saya berhasil juara.

Setelah bermain, kami mencari kegiatan lain karena masih jam 11 lewat. Pilihan jatuh kepada satu mufakat untuk menonton film. Kami menonton film Danur 3: Sunyaruri dengan aturan tak boleh takut dan menutup mata. Karena nontonnya bersama, film yang bergenre horor menjadi komedi sebab terus kami komentari.
Beberapa kali, Ari dan Ali menggoda Rendy karena menjadi yang paling muda dari kami semua. Hingga film selesai, karena masih menyimpan pertanyaan, kami membuka diskusi yang cukup alot dan panjang. Diskusi ini akan saya tulis dalam postingan lain.
Kami tidak tidur sampai waktu sahur. Tidak aneh karena hal itu sudah menjadi kebiasaan. Jadi, menjelang pagi baru kami bisa tidur. Kemudian bangun jam 11 lewat untuk kemudian menonton film lagi. Karena malas bergerak, kami jadi keasikan berada di sana. Kami pulang jam 5 kurang dan masih mendapat waktu untuk buka puasa di rumah masing-masing. Tidak ada perkumpulan di luar, kami hanya berada dalam satu ruangan dengan orang yang sama. Penegasan ketiga ini hanya untuk pemanis bahwa yang kami lakukan adalah #dikosanaja.







