zsnr95ICNj2jnPcreqY9KBInEVewSAnK0XjnluSi

Roti Canai dari Sebuah Film

Seringkali saya mendapatkan hal baru ketika sedang, atau selesai menonton film. Salah satunya adalah informasi masakan yang enak-enak. Seperti belakangan ini, saya sedang kusyuk menonton film-film dan series dari Asia. Dari Indonesia, saya nonton 27 Steps of May (2019) untuk film,  ada juga series on demand  seperti Tunnel versi Indonesia, Filosofi Kopi Series, dan tentu saja Saiyo Sakato, yang awalnya saya pikir adalah saduran dari Jepang.

Saiyo Sakato adalah original series yang keren dari Indonesia. Saya belum menemukan ada series Indonesia yang dari segi cerita bisa seunik ini, dari segi karakter se-loveable itu. Salut sama mba Gina, mas Aris, dan Arief. Saiyo Sakato dilatari oleh masakan Padang yang bikin lapar disetiap episode. Tapi, saya bukan mau bicara tentang Saiyo Sakato, tapi ini juga sama tentang makanan: roti canai khas India.

Saya lupa tanggal berapa, tapi masih dalam posisi mengisolasi diri. Saya gunakan waktu dengan banyak menonton dari daftar tontonan yang sudah menumpuk. Saya menemukan satu film Bollywood dari daftar itu. The Lunchbox, judulnya.


The Lunchbox adalah sebuah film tentang seorang istri yang tanpa sengaja mengirim kotak makan ke orang yang salah. Dari situ, hubungan antara si penerima kotak (Saajan) makanan dan pengirim (Ila) terjadi ketika surat pertama dari kotak makan tersebut dikembalikan. Salah satu film yang menarik dan keren, bahkan diluar dari lingkupnya.

Dari film The Lunchbox lah, saya kembali melihat makanan-makanan India lagi. Yang sebelumnya, saya sudah menahan diri untuk tidak ke restoran padang. Dari semua makanan, saya tertarik dengan roti canai, atau roti prata, atau roti pipih. Sebab, dari beragam makanan, yang paling mudah dan cukup menggiurkan adalah roti canai tersebut.

Saya ke dapur, dan entah kenapa semesta mendukung semua hal yang terjadi hari itu. Saya melihat ada kari ayam buatan Mama saya tadi pagi. Ada ikan goreng, dan tempe yang dibumbui. Intinya adalah dari kari ayam itu, yang setelah saya membaca beberapa artikel, roti canai memang cocok dimakan bersama kari ayam.

Bekal resep dari internet, saya memulai. Saya mencari resep yang cukup sederhana. Yaitu dengan bantuan tepung terigu, telur, dan beberapa bahan lainnya. Saya menyalakan kompor untuk merebus air, itu untuk dipakai bersama telur dan minyak goreng. Saya aduk perlahan untuk menyatukan mereka. Setelahnya, saya masukkan tepung terigu, gula, dan susu bubuk. Saya aduk dan berharap agar adonan menjadi kalis. Tapi sampai saya berkeringat, dan tangan saya sudah masuk ke wadah, adonan tersebut masih lengket. Saya membuang karena menyadari satu hal penting: takaran penting untuk pemula. Naif juga saya mencoba-coba improv seperti Da Zul (Saiyo Sakato).

Percobaan kedua membuat adonan. Karena tidak memiliki takaran, saya mencoba mencari konversi takaran diinternet dengan menggunakan sendok. Takaran tepung 300 gram, saya masukkan ke wadah sebanyak 30 sendok makan. Takaran 50 ml minyak, saya masukkan tiga sendok makan setengah, karena satu sendok makannya setara 15 ml. Itu saya lakukan dengan hati-hati.

Problem kedua, lampu padam. Saya membuka pintu belakang agar dapur jadi lebih terang. Beberapa kali Mama saya berdecak heran, sekaligus pusing karena beberapa menit kedepan dapur akan saya hancurkan. Setelah adonan kalis, saya menuang minyak ke wadah, dan membuat enam bulatan dari adonan untuk saya diamkan selama satu sampai dua jam.


Setelah maghrib, saya mengambil adonan. Menyalakan kompor dan memanaskan teflon. Saya ambil piring plastik yang agak besar untuk membuat pipih adonan. Adonan masuk ke teflon untuk menimbulkan reaksi yang menarik untuk dilihat. Saya membuat pipih yang lain sembari menunggu untuk membalikkan adonan yang sudah ada di telfon. Adonan itu jadi, agak terlihat bekas-bekas hangus mirip seperti yang saya lihat diinternet. Sepertinya akan berhasil.


Saat itu mati lampu yang kesekian, ketika roti canai saya jadi. Saya cukup pede untuk ke Chef Juna saat itu. Roti canai itu saya hidangkan bersama kari ayam, tempe, dan ikan goreng. Dimakan saat mati lampu dengan bantuan lilin. Itu nikmat. Seperti berada ditengah-tengah mereka (yang saya maksud adalah orang India).


Saya cukup yakin dengan semua itu, bahwa kita pernah melihat sesuatu yang membuat kita tergerak untuk mencoba. Bukan hanya film. Bukan hanya makanan. Seperti pada waktu itu, saat masa SMP dan menaksir seorang perempuan. Saya membuat sebuah alat mata-mata dari dua cermin dan sebuah kotak panjang. Saya pakai untuk mengintipnya dari jendela kelasnya, ditemani teman untuk berjaga.

Film ternyata punya dorongan yang mahadasyat. Sehingga dari orang yang terlahir dari lahirnya film India di Indonesia, akhirnya bisa berada ditengah-tengah mereka, budaya mereka, meski hanya dari makanan. Saya mau menutup dengan salah satu kutipan dari film The Lunchbox:

kereta yang salah, bisa membawa ke stasiun yang benar.

Related Posts

2 comments

Terimakasih sudah membaca. Sila berkomentar terkait tulisan ini.