Oh, ini Ramadhan yah? Euforianya senyap sekali.
Tetap saja, disamping euforia yang tidak semenyenangkan tahun-tahun lalu, kita tetap bisa mlihat dari sisi positif. Meski nihil sebenarnya. Tidak ada taraweh berjamaah di mesjid, tidak ada buka bersama, ataupun ngabuburit.
Karantina ini memang benar-benar menguji mental. Sebagai orang yang malas keluar rumah, entah kenapa bisa semenganggu ini. Setiap hari kegiatan yang saya lakukan bisa dikatakan adalah evaluasi dari hari kemarin. Misalnya, pagi hari ini saya berjemur pada jam 8 atau 9 pagi. Setelah membaca dan menonton berita, ternyata waktu berjemur yang baik adalah 15 menit sebelum jam 10.
Hiburan juga mulai membosankan. Ada begitu banyak konten untuk dinikmati. Ada begitu banyak peng-gratisan streaming film legal seperti GoPlay, Vidio, atau Iflix. Atau media berita seperti Tempo dan Kompas yang sempat memberi langganan sebulan gratis selama masa pandemik ini. Semua saya manfaatkan untuk kebutuhan hiburan. Tapi lama-kelamaan, ini jadi menjenuhkan.
Kemudian, ada beberapa tanggapan saya selama pandemik ini. Saya tulis di Facebook pribadi saya sebagai tugas dari mata kuliah.
Tulisan pertama:
![]() |
| Sumber foto: potretlawas |
Ini bukan yang pertama kali. Tahun 1911-39 wabah pes terjadi di Jawa, abad ke-14 wabah 'black death' terjadi di Eropa. Saya tidak kompeten untuk bicara banyak masalah itu. Saya berbicara sebagai seorang warga negara, bukan virolog, utusan WHO, ataupun orang yang bergerak dari lembaga manapun, untuk mengajak teman-teman sosial media saya untuk: 1) Menjaga kebersihan, 2) Menjauhi keramaian, dan yang paling penting adalah 3) untuk orang yang disekitar kita agar diajak, dihimbau, bahkan diperingati agar tetap #dirumahsaja. Mungkin bukan solusi yang baik bagi beberapa orang, tapi ini adalah cara agar pandemik ini tidak melonjak. Banyak alasan untuk tidak di rumah semoga ada alasan untuk tetap di rumah. Terlepas dari apa yang sudah terjadi, semoga tetap baik dan bijaksana. Cepat atau lambat, semua akan berlalu. Ini adalah salah satu hal yang bisa saya lakukan. #dirumahaja #bersamamelawancorona
24 Maret
Tulisan kedua:
![]() |
| Sumber foto: google.com |
Saya ingin menyebutnya dengan "langkah-langkah menikmati..." tapi itu terkesan seakan saya menikmatinya. Tapi mungkin ini bisa jadi bagian dari menghilangkan rasa bosan dimasa covid19 ini. Ada banyak konten, tapi saya tau sudah ada anjuran untuk berselancar di internet dengan sewajarnya saja untuk saat ini. Kita bisa menonton film secara legal di Iflix, Vidio, GoPlay, yang telah memberi layanan streaming gratis sampai beberapa hari kedepan. Ada juga Tempo, majalah/koran yang juga memberi akses gratis selama sebulan, memberi kelas menulis gratis yang menurut saya keren untuk diikuti. Kemudian untuk layanan edukasi belajar, ada Zenius, ada Ruang Guru yang menyediakan layanan belajar gratis setiap harinya. Ditambah, mereka memberi kuota internet gratis (khusus untuk aplikasi mereka) bagi yang merasa tidak memiliki cukup kuota internet. Ada banyak lagi, YouTube itu luas, terakhir saya menonton video dokumenter tiga jam seorang lelaki berkemah dengan anjingnya dimusim salju. Ada banyak kebiasaan yang musti kita jeda sebentar untuk hal yang lebih baik, seperti berjemur sendiri. Lucu juga, dulu sebagai anak SMA yang cukup sering dijemur sekarang jadi orang yang dengan kesadaran diri penuh untuk berjemur. Sudah cukup suara-suara untuk social distancing, saya rasa saat ini kita cukup puasa dalam bersosial media: social media distancing. Itu gerakan yang baik. Tidak perlu bersuara, cukup dengan kesadaran diri. Sehingga, kita bisa mengambil jarak untuk melihat hal-hal yang kita lewatkan. Hal-hal yang sebenarnya tidak perlu kita lakukan. Wasalam. #covid19
25 Maret
Tulisan ketiga:
![]() |
| Sumber foto: google.com |
Kalimat yang dimulai dengan "saya tidak bermaksud..", biasanya sudah ada niat yang dimaksudkan. Oleh sebabnya, saya menggantinya dengan: mudah-mudahan tidak tersinggung.
Tidak ada sirine, tapi terlalu banyak polisi. Tak berseragam. Tak berpistol. Senjatanya hanya keyakinan dan kedua jempolnya. Seakan-akan sebuah argumen harus disetujui beramai-ramai. Itu sangat menganggu banyak kepala pemikir. Kenapa bisa sebuah argumen langsung diamini tanpa dipertanyakan (setidaknya oleh hati dan kepalanya sendiri). Saya lebih senang dengan melihat motif, alasan.
Lalu, apa yang diramaikan? Argumen tersebut disebarluaskan dengan anggapan bahwa ia menjadi bagian dari orang-orang yang bergerak atas nama kebaikan. Padahal tidak. Ia hanya jadi bagian dari orang-orang yang haus puja-puji. Atau mungkin hanya agar terlihat normal dan berdiri pada golongan mayoritas. Tapi tentu, masih ada orang yang tidak lebih baik dari ini. Orang-orang mengenalnya sebagai: polisi moral.
Saya menarik diri dari orang itu tapi tentu tidak ada masalah. Situasi saat ini, bukan semata menunjukkan diri sebagai orang yang paling agung. Saya masih merasa aneh ketika mengajak orang-orang untuk tidak keluar rumah, tapi lingkungan saya masih biasa-biasa saja. Itu semacam berteriak dalam sebuah balon. Beberapa orang kemudian melihat argumen A, merasa setuju atas bekal buku-buku Yuval Noah Harari yang ditentengnya, lantas menuntut orang-orang untuk setuju. Mengimbau tapi dengan tujuan agar terlihat lebih terpelajar, lebih berisi.
Semoga kita tidak jadi bagian dari itu. Semua hanya tentang sudut pandang. Saya memandang itu sebagai sebuah persoalan. Berkecamuk dikepala, bahkan tanpa mencatat di note hape itu terus berkeliaran. Ada baiknya, untuk beberapa waktu saya menarik diri dari sosial media. Kemudian melihat ada banyak hal yang saya lewatkan. Misalnya daftar film yang menumpuk, buku yang masih tersegel, atau blog yang sudah jarang di update.
Jika ada kata yang kurang berkenan, saya tidak bermaksud.. 😄 #dirumahaja
13 April
Tulisan pertama itu saya mula-mula membahas sejarah wabah sebelum pandemik korona ini dengan anjuran untuk tetap di rumah saja melalui tagar #dirumahaja. Tulisan kedua, itu lebih kepada beban moral saya kepada tulisan pertama bahwa saya merasa tidak memberikan solusi terhadap anjuran saya untuk tetap berada di rumah. Saya memberi beberapa info tentang streaming service yang sedang digratiskan, juga media berita dan tempat belajar gratis. Tapi ditulisan itu juga saya mulai sadar untuk suara social distancing adalah hal yang tidak efektif digemakan lagi. Saya rasa itu tentang sikap diri seseorang untuk merasa ini adalah sebuah tugas kolektif.
Untuk tulisan ketiga, saya berpikir bahwa itu sangat keras. Untuk berani menekan publish saja, saya berpikir beberapa kali dengan diksi yang saya gonta-ganti. Isinya kurang lebih kegusaran saya tentang orang-orang yang menyetujui sebuah argumen tanpa mempertanyakan, kemudian dengan gigihnya mengajak orang setuju agar terlihat lebih paham.









