zsnr95ICNj2jnPcreqY9KBInEVewSAnK0XjnluSi

3 Buku Terbaik Tahun 2020, Sejauh Ini..

Bisa dibilang, tahun 2020 saya mulai dengan cukup ngebut. Dari satu bulan pertama, saya sudah membaca lima buku. Angka fantastis bagi saya. Seiring waktu, intensitas mulai menurun. Prioritas jadi makin terbagi antara film, tugas, dan lain-lain. Intinya buku nomor kesekian. Ohya, saat ini saya masih membaca Nyonya Bovary karya Gustave Flaubert, dikit lagi selesai.

Untuk buku berikutnya ada banyak pilihan acak. Saya agak bingung antara membaca ulang salah-dua buku yang menurut saya bagus, atau membaca buku yang bahkan segelnya saja belum terbuka. Ada beberapa buku yang belum saya baca sama sekali. Padahal, jika ditarik panjang, saya sudah agak lama membeli buku tersebut. Saya coba absen dari buku yang belum saya baca dan terkait alasannya.

Ada dua buku yang masih tersegel. Ada Titik Temu karya Ghyna Amanda. Dari judul sudah kayak merek minuman boba. Yang kedua ada Serat Gantigi karya E. Rokajat Asura. Covernya keren. Kedua buku tersebut terbitan Mojok. Saya masih sangat ingat membeli buku tersebut tahun lalu, bersama paket hemat 7 atau 8 buku.

Kemudian, ada beberapa buku yang sudah lepas segel namun belum rampung dibaca. Beberapa diantarany adalah An Abundance of Katherines karya John Green. Aneh juga, padahal saya penggemar tulisan John Green, tapi belum mampu merampungkan buku tersebut. Persoalan paling menganggu adalah mengingat nama-nama Katherine dalam angka romawi.

The Maze Runner karya James Dashner. Saya sudah agak lupa dimana dan kapan membeli buku ini. Tapi, saya mulai agak malas merampungkan ketika sudah menonton filmnya. Mungkin ini akan jadi opsi terakhir yang saya pilih ketika benar-benar tidak ada buku lagi. Sang Juragan Teh karya Hella S Haasse. Gara-gara Helen dan Sukanta-nya Pidi Baiq, sepertinya saya akan mencoba membaca buku ini.

Vegetarian karya Han Kang. Padahal, buku ini sudah hampir 80% saya rampungkan. Tapi ditengah-tengah saya kehilangan fokus dan tidak dapat mengikuti cerita. Akhirnya saya memilih stop dulu. Problem yang sama terjadi pada Kura-Kura Berjanggut karya Azhari Aiyub. Novel yang katanya salah satu paling tebal di Indonesia; 960 halaman.

Yang terakhir, adalah Zarathustra karya Friedrich Nietzshe. Jujur, saya masih tertatih-tatih membaca buku ini. Entah karena referensi saya yang masih belum bisa mencerna buku tersebut atau memang sayanya aja yang malas mikir. Tapi, saya benar-benar ingin membaca buku ini dalam waktu dekat.

Ada beberapa buku lagi, tapi itulah yang saya beli dengan niat benar-benar ingin membaca. Yang lain karena memang kebutuhan kampus dan lain-lain.


Sekarang kita ke buku yang sudah saya baca sepanjang tahun ini. Yang pertama adalah Laut Bercerita karya Leila Chudori. Salah satu buku favorit saya tahun ini. Kemungkinan, saya akan membeli buku-buku lain dari mbak Leila. Nyesal saya baru kenal beliau. Gerakan mahasiswa dibuku ini benar-benar menguras emosi.

Selanjutnya ada Kata karya Rintik Sendu. Belakangan, saya banyak menemui penulis dengan nama samaran. Entah dengan tujuan apa. Buku ini diperkenalkan oleh teman dan saya mulai tertarik ketika beberapa kali melihat buku ini. Bukunya cukup ringan khas cerita remaja. Tapi ada beberapa isu menarik yang diangkat. Seperti penyakit Skizofrenia, meski pembahasannya tidak terlalu dalam.

Samaran karya Dadang Ari Murtono dari terbitan Mojok. Entah kenapa, saya suka buku ini. Tulisannya mengingatkan saya dengan tulisan padat Eka Kurniawan di Lelaki Harimau. Buku ini bercerita tentang munculnya sebuah wabah di sebuah desa. Salah satu kutipan paling menarik (yang juga ditampilkan dibelakang buku) adalah "Salah satu wabah yang paling cepat menular adalah kecemasan dan ketakutan.".

Masih dari terbitan Mojok, ada Orang-Orang Gila karya Han Gagas dan Jemput Terbawa karya Pinto Anugrah. Keduanya menarik. Salah satu yang masih saya ingat adalah profesi unik tukang kaba pada novel Jemput Terbawa karya Pinto Anugrah. Elemen itu sangat kuat dibuku ini. Sepanjang membaca, saya jadi ingat Perempuan Tanah Jahanam-nya Joko Anwar.

Sekarang kita ke buku terjemahan, ada Uncommon Type karya Tom Hanks. Saya memang sudah lama mencari-cari buku ini. Setelah punya uang lebih, saya memesan bersama buku Nyonya Bovary. Ada belasan cerita yang ditulis oleh aktor kawakan Hollywood ini. Salah satu yang masih saya ingat adalah tentang seorang anak yang melakukan perjalanan bersama Ibunya yang sudah bercerai. Ada beberapa cerita yang dieksekusi layaknya surat kabar.

Lalu ada Helen dan Sukanta karya Pidi Baiq. Sejauh ini, saya memang masih gemar membaca buku Ayah Pidi. Terutama seri novel Dilan dan Drunken. Saya bisa bilang bahwa seri Dilan adalah buku paling sering saya baca kembali. Entah untuk membaca habis atau hanya satu-dua bab saja. Helen dan Sukanta mungkin bisa dibilang Dilan versi masa kolonialisme. Bedanya, di sini Sukanta tidak seagresif Dilan. Ia malah lebih tenang dan pasif. Satu persamaan Dilan dan Sukanta: sama-sama perayu. Helen di sini digambarkan sebagai perempuan dari keluarga Belanda yang terkungkung oleh aturan bahwa Belanda tidak boleh berhubungan dengan orang Pribumi. Salah satu tugas menggerakkan saya untuk menjadikan novel Helen dan Sukanta sebagai objek kajian.

Terakhir ada Binorrow: Tongkat Musa dan Tujuh Roh Boorne karya Sudarman BK. Masih dari terbitan Mojok, Binorrow mengusung cerita tentang seorang anak yang agak berbeda dengan teman-temannya, dipindahkan ke sekolah Asrama dan menemukan dirinya dalam sebuah misi. Agak fantasi namun tetap menarik untuk diikuti. Meski ada beberapa momen saya merasa pengarang terlalu mem"bodoh"kan karakter utama.

Dari delapan buku diatas, saya akan memilih menjadi tiga buku favorit saya sejauh ini. Yang pasti semua baik, saya hanya tinggal memilih terbaik dari yang terbaik untuk menjadi favorit. Yang pertama ada Laut Bercerita karya Leila Chudori, yang kedua ada Helen dan Sukanta karya Pidi Baiq, dan yang ketiga adalah hal berat untuk memilih Tom Hanks atau Dadang Ari Murtono. Tapi saya akan mencoba objektif, untuk kemudian berpikir bahwa cerita Dadang Ari Murtono cukup origin di kepala saya.

Kalau sesuai rencana, bulan ini saya akan merampungkan Nyonya Bovary. Lalu beralih ke buku berikutnya. Masih belum memikirkan akan membaca buku apalagi. Apakah saya akan membaca dari daftar buku yang belum saya baca diatas, atau malah membaca ulang buku yang sudah saya baca. Intinya, saya tetap akan menyisihkan waktu untuk membaca. Kadang-kadang, saya termenung sebentar, lalu berpikir sudah berapa waktu yang saya habiskan untuk membaca. Sudah berapa duit keluar untuk ini. Jawaban tersebut sepertinya belum bisa saya uraikan. Mungkin kapan-kapan.

Related Posts

Post a Comment