Hey, hey..
Saya tidak yakin anda tidak bersenandung dimasa-masa Wali, ST12, atau Kangen Band itu tenar. Karena jujur, saya tumbuh dengan musik-musik mereka. Apakah kemudian, ketika sekarang saya menyenangi misalnya lagu-lagu Pamungkas saya menjadi tidak suka dengan lagu-lagu mereka. Tidak. Saya tetap akan menyanyi di tempat karaoke meski tidak mendapat microphone.
Pada tahun 870 Masehi, saat pertama kali musik ditemukan oleh Al-Farabi, sepertinya tidak ada problem seperti ini. Bagaimana memperdebatkan selera musik. Al-Farabi yang mungkin pada saat itu menemukan not musik, datang jam 10 malam di pos ronda karena mendapat jadwal piket.
"Bi, apa itu?" tanya temannya.
Karena belum bisa menjelaskan, Al-Farabi hanya memainkan alat musik menjadi nada-nada merdu.
"Cakep!" kata Pak RT yang sedang memantau.
Semakin berkembang, lahir musisi macam Beethoven, Bob Dylan, atau yang paling baru Billie Eilish. Selera biasanya dipengaruhi oleh umur. Beberapa kali saya mendengar ucapan seseorang yang mengeluh tentang musik jaman sekarang. Disisi yang lain, anak jaman sekarang mempertanyakan musik dulu yang liriknya kadang-kadang sangat artifisial dan lain-lain. Tapi tak jarang juga, anak jaman sekarang menyenangi musik dulu ketimbang sekarang. Istilahnya '90ism, berkiblat pada hal-hal yang klasik.
Kemudian muncul spotify, dan membuat saya kenal dengan berbagai macam lagu dan jenis musik. Lagu-lagu yang biasa di cap indie, misalnya. Beberapa musisi seperti Danila, sempat kecoplosan mengatakan bahwa beberapa oknum yang memasang cap malah mengotori hal tersebut. Setuju tidak setuju, ada benarnya juga. Saya pikir, lagu adalah hal personal untuk semua orang. Jadi bagi saya, playlist adalah hal yang cukup privasi.
Berbicara masalah privasi, playlist mungkin salah satunya. Salah satu adegan dari film Begin Again dimana karakter Dan Mulligan bertanya kepada Gretta tentang jenis musik apa yang ada dihapenya. Grette menjawab,"Aku tidak akan memberi akses untuk melihatnya.". Meski malu, Gretta kemudian mengiyakan sebab dari percakapan selanjutnya bahwa playlist bisa memberi tahu banyak tentang seseorang.
![]() |
| Sumber foto: google.com |
Saya tidak begitu peduli sampai ingin memperdebatkan jenis musik apa yang orang dengarkan. Malah, itu menambah referensi musik untuk saya dengarkan. Berbicara musik adalah tentang selera, dan selera adalah hal yang sangat personal. Maka dari itu, musik bukan tentang tren pasar. Musik bagi saya adalah perjalanan spritual. Tentang bagaimana menikmati sebuah album dari awal dan mendapatkan pengalaman yang utuh dan membekas. Sama seperti saya menikmati album dari soundtrack film Begin Again, atau album Walk The Talk-nya Pamungkas, atau Only Almarhum Ninja Can Stop My Tamborine dari The Panasdalam Bank. Musik yang saya dengarkan beragam. Terus berkembang dan saya tidak mungkin menghakimi musik yang dulunya pernah saya nyanyikan.
Saya mendengarkan Frank Sinatra, Roberta Flack, atau bahkan Pance Pondaag. Tapi tidak menutup diri untuk mendengarkan lagu-lagu Billie Eilish, Eminem, atau mungkin jenis musik yang bertolak belakang dengan yang sering saya dengarkan. Saat sedang menulis ini, Best I Ever Had-nya Vertical Horizon mengalun. Bayangkan, bagaimana lagu dengan lirik semelow itu dibawakan dengan sangat laki. Kenapa kita tidak lebih sibuk dengan eksprerimen seperti itu.
Saya bukan orang yang benar-benar paham musik. Tapi saya tahu, musik adalah hal personal untuk semua orang. Maka ketika saya berbicara musik, ini tentang diri saya dan musik. Orang-orang mungkin akan setuju, atau tidak. Itu jelas karena ini hal yang personal. Kita bisa menyukai musik yang sama tapi melihatnya berbeda. Mendengarkan satu lirik dalam bait yang sama, tapi memaknainya berbeda. Itu lumrah. Karena musik, adalah hal yang personal.







