zsnr95ICNj2jnPcreqY9KBInEVewSAnK0XjnluSi

Kucing, Reinkarnasi, dan Camping di Masa Korona

Setelah nginap seharmal di Pondok (tempat kak Rijal) beberapa hari lalu, kami jadi kepikiran bagaimana jika melakukan kegiatan itu kembali tapi dengan jangka waktu yang agak panjang. Seperti camping di tengah hutan namun dengan fasilitas kosan.

CELETUKAN ISENG MENJADI RENCANA DADAKAN

"Tiga hari," Kata Riki. 

Saya cuma iseng nyeletuk waktu itu karena tahu pasti tidak akan diijinkan. Kalo saya sendiri sih tidak masalah, tinggal bagaimana meng-komunikasikan saja kepada orang di rumah.

Tapi tau-tau, obrolan ngawur itu terjadi kembali. Tepatnya saat Riki datang ke kamar dengan niat main PES bareng. Di sana sudah ada Ari, Rendy, dan Riki tentu saja. Saya sudah lupa awal mulanya, tapi percakapan terakhirnya adalah bagaimana memastikan Kak Rijal ada di pondok dan kedua apakah bisa untuk datang ke sana. 

Setelah mendapat lampu hijau dari Kak Rijal, tinggal menunggu informasi dari Riki yang pulang untuk minta ijin ke Ibunya. Selang beberapa waktu, pesan Riki masuk ke grup WhatsApp: "Siap-siap mi". Dan itulah gongnya.

Dengan rencana yang sangat dadakan dan persiapan yang buru-buru, kami berangkat menuju Pondok tempat Kak Rijal. Yang berangkat adalah saya, Ali, Riki, dan Rendy, sementara Ari menyusul setelahnya.

Beberapa malam sebelumnya

BALADA OTE-OTE

Setelah mendapat ijin, syarat utama yang harus kami lakukan adalah memakai masker. Begitulah yang terjadi sehingga kami semua datang dengan memakai masker. Di sana, Kak Rijal sudah ada, mungkin sudah meng-konfirmasi kami semua kepada Ibu Riki.

Selain masker, hal lain yang kami patuhi adalah tetap berada di dalam kosan. Meski kami tahu, itu hanya karena kami memang malas kemana-mana. Dengan pendingin ruangan, teve, dan laptop, kami bisa mendapat hiburan tanpa henti. Misalnya kami menunggu sahur dengan bermain game PES atau menonton film bersama.

Sekalipun kami keluar, itu adalah untuk pulang karena ada hal yang harus dikerjakan Ali dan saya. Setelahnya saya dan Ali keluar lagi membeli beberapa bahan untuk membuat ote-ote. Semacam bakwan dengan berisi sayur kol, kacang panjang, wortel, dan beberapa bahan lain. Biasanya, jika punya udang akan lebih enak. Apalagi lombok airnya pas dan cocok.


Ote-ote yang dibuat Ari habis pada dua malam. Rencana dipakai ngemil sambil menonton film, tapi baru intro film ote-ote sudah habis. Bukan cuma karena enak, tapi karena ote-ote tersebut berhadapan dengan orang yang salah.

PAGI JADI MALAM, MALAM JADI PAGI

Kami sudah tau, konsekuensi tidur bersama adalah kami akan saling tahan-tahanan tidur. Selama tiga malam, kami tidur setelah matahari terbit dan bangun saat siang. Yang kami lakukan juga bukan hal yang begitu penting seperti yang dilakukan Kak Rijal. Kami hanya bermain PES dan menonton film.

Karena sibuk, Kak Rijal jarang bergabung. Ia hanya ada saat mau tidur, sahur, dan buka puasa saja. Sahur yang kami makan juga seadanya. Dari Mi Instan yang kami bawa masing-masing dan beberapa lauk pendamping lainnya seperti telur, tempe, dan ikan yang diolah secara berganti-gantian.

Karena itu, bukan makanan enaklah yang membuat kami mau bersama. Tapi dorongan untuk bersama dan merasakan kegiatan diluar rumah masing-masing. Berada pada satu tempat dengan waktu 3 kali 24 jam bersama adalah hal yang membuat kami merasa ada satu kekuatan diatas materi itu: kebersamaan.

OBAT NYAMUK JAKARTA

Alasan kami saling menahan tidur, bukan semata karena saling menahan gengsi. Lebih dari sekadar gengsi laki-laki. Itu terjadi saat hari pertama ketika Ari berkata,"Siapa yang tidur duluan, kena obat nyamuk Jakarta."

Obat nyamuk Jakarta adalah semacam nama untuk sebuah alat yang dipakai membangunkan yang tidur. Agak susah untuk dijelaskan. Jadi, itu semacam lidi yang sudah dibakar dan berbentuk arang kemudian ditempelkan pada kaki dengan menggunakan odol. Ujung lidi dibakar sehingga menjalar sampai kulit. Sederhananya begitu.

Salah satu contoh pemasangan obat nyamuk Jakarta

Orang-orang yang mencoba tidur, mendapat giliran untuk merasakan obat nyamuk Jakarta. Awal mula Ari mengatakan nama alat tersebut, semua orang menjadi parno untuk tidur. Termasuk saya yang pada satu waktu menahan tidur sebelum sahur. Riki dan Rendy sedang bermain PES, sedangkan Ari sedang membuat ote-ote.

Terdengar suara tawa yang membuat saya terbangun. Sambil mengumpulkan nyawa, saya melihat ada Ali, Riki, dan Rendy sudah tersenyum dan tertawa. Belakangan saya tahu, mereka memasang obat nyamuk Jakarta kepada saya lewat Ari. Karena pada saat itu, hanya Ari yang tahu cara dan alatnya.

Setelah itu, saya tidak tidur sebelum yang lain tidur. Saya mencoba untuk tetap terjaga sepanjang mereka terjaga. Pagi saat kami sudah mau pulang, Ali, Riki, dan Rendy mendapat dua kali masing-masing obat nyamuk Jakarta dari saya dan Ari. Saya hanya sebagai kaki tangan Ari yang memasang alat. Saya hanya bertugas membantu menyalakan korek.

Yang paling penting setelah itu adalah kemampuan akting kita harus bagus. Karena, setelah sadar terkena obat nyamuk Jakarta, kita harus pura-pura tidur agar tidak dicurigai sebagai pelaku.

SELIPAN VIDEO CALL

Pada malam terakhir saat sedang mengerjakan sebuah tugas, masuk panggilan video call dari teman kelas saya. Itu adalah Arjun, Indah, dan Harni. Saya juga bingung dalam rangka apa, tapi tetap saya angkat dan menyandarkan ponsel seraya masih mengerjakan tugas.


Awalnya, kami membahas tugas-tugas dan kapan pandemik ini berakhir. Dari obrolan saya bersama teman-teman di Pondok, saya mengatakan bahwa pandemik ini akan berakhir paling lambat diakhir tahun. Paling tidak, semuanya akan berjalan normal pada akhir tahun atau awal tahun depan. Kemungkinan itu yang membuat Ali kaget dan mencoba tetap optimis.

Kemudian, kami beralih membahas kisah romansa yang belum selesai. Karena tak tahu duduk perkara, saya hanya berusaha menjadi penyimak yang baik dan sesekali menggoda Arjun. Setelah hampir satu jam, kami akhiri untuk saya kembali melanjutkan tugas.

SELAMAT JALAN, FIKO

Tepatnya hari kedua, saat sebuah pesan WhatsApp dari nomor Mama masuk. Itu dikirim oleh adik perempuan saya. Isinya adalah foto kucing kami, Fiko, yang sudah mati. Akibatnya tidak diketahui, tapi yang kami tahu adalah beberapa bulan ini memang ia tak seperti biasanya. Puncaknya adalah malam sebelum kami pergi, ia makan harus dengan didorong suntik tanpa jarum.

Lalu paginya, pesan dari Mama tiba dengan informasi bahwa sebelum Fiko mati ia memang dalam kondisi kejang-kejang. Masuk ke kamar saya dan mati. Fiko sendiri dirawat sejak baru lahir bersama Fiki, kucing lainnya. Tapi karena Fiki terlalu rewel, ia tidak jadi kami pelihara. Jati dirinya mungkin bukan sebagai kucing yang dipelihara.

Foto terakhir digaleri hape saya

Sebagai sebuah keluarga, kami cukup akrab dengan hewan domestik. Bapak memelihara ayam, Mama memelihara ikan hias, Tante memelihara burung (yang sudah mati), dan kami akhirnya yang dari dulu ingin memelihara kucing akhirnya mendapat ijin. Fiko menjadi bagian dari kami, yang kemudian membawa emosi pada lingkaran itu. Sehingga saat ia mati, dorongan emosional menimbulkan air mata.

SELAMAT DATANG, FIKI

Setelah malam, Mama kembali mengabari Rendy lewat pesan whatsapp. Ia memberi tahu bahwa telah mendapat kucing peliharaan baru. Bukan untuk melupakan Fiko, tapi untuk mengusir emosi negatif bersamanya. Yang kemudian, anak kucing tersebut diberi nama Fiki oleh adik perempuan saya. Itu untuk mengingat bahwa Fiko, dulunya mempunyai saudara bernama Fiki. Yang sekarang entah dimana, melalang buana.


TENTANG REINKARNASI

Beberapa waktu saat pulang, saya bertemu Fiki. Perilakunya imut seperti anak kucing pada umumnya. Sebagai anak kucing, dia cukup normal untuk aktif kesana-kemari. Dia cukup bersahabat untuk semua orang. Jadi, pas ketemu pun tidak ada lagi siapa-saya-siapa-kamu.

Satu hal yang saya sadari kemudian adalah warna kulit Fiki sekarang sangat mirip dengan warna Fiki yang dulu, saudara Fiko. Setelah menanyakan ke adik perempuan saya, memang ialah yang memberi nama. Fiki yang dulu adalah anak kucing yang aktif, lebih aktif dari Fiko. Fiki yang sekarang juga tak kalah aktif.

2019, ketika Fiko dan Fiki masih kecil

Saya kemudian berpikir, jangan-jangan inilah sebuah reinkarnasi. Bukan dari Fiki ke Fiki. Tapi dari Fiko ke Fiki yang menyerupai saudara kandungnya dulu. Karena jujur, dulu saya lebih senang ke Fiki yang bisa dibilang sangat aktif.

Tapi ini hanya cocoklogi saja. Semua kucing kadang terlihat sama dari warnanya, dari coraknya. Siapa tahu, ini adalah anak dari Fiki yang dulu. Tidak ada yang tahu. Tapi satu yang pasti, kami menyayangi Fiki sebaik kami menyayangi Fiko.

Related Posts

Post a Comment